Monday, 9 January 2017

That Woman (그 여자)

This song sum up my whole heart

That Woman (그 여자)

A woman loves you.
The woman loves you wholeheartedly
She follows you around like a shadow everyday
She smiles, but she's actually crying

How much longer do I just have
To look at you, alone?
This love that came like wind, this love that is like a beggar
If I continue this, will you love me?

Just come a little nearer, just a little bit
When you come a step closer, please don’t step back
I, the one who loves you, is still next to you.
That woman is crying.

That woman is very shy
So she learned how to smile
Her heart is so full of tears
She can't even share her story with her best friend

That's why, that woman loved you
Because you were so much like her
Another fool, yet another fool
Please give me one more hug before you leave me

I want to be loved, my dear, that's all I wanted
She shouts, just in her heart just in her heart.
No one can hear her
But that woman is still next you

Do you know that
I am that woman?
You don't know, do you?
Because you are just a fool

How much
How much longer
Do I have to love you like this?

This love that is like a fool
This love that is like a beggar

Would you love me?
That woman, who loves you
Is still next you and she is still crying

Saturday, 15 October 2016

I will

I will laugh often , is something I can promise. Not knowing wether I can fulfil it or not.

Tuesday, 19 July 2016

Teman dan 'Teman'

Makhluk hidup di dunia ini begitu beragam. Bahkan manusia pun beragam warnanya, rambutnya, besarnya, sifatnya. Ada mereka yang dekat atau sekedar dekat dengan kita, sedari dulu mereka memanggilnya Teman. Yang kita sebut teman ini juga macam-macam tingkahnya, rupanya, kenangannya. Ada mereka, yang kita sebut teman dan ada yang kita sebut ‘teman’.

Waktu itu dia ada, memanggilmu bahkan di waktu yang tidak tepat dengan singkatnya. Kemudian perlahan mendekatimu, bersikap baik karena menginginkan sesuatu, entah pertolongan atau sebuah pengakuan. Kamu menyambutnya dengan senyuman seakan dirimu dibuat bahagia karena sapaannya. Karena kamu pikir bahwa ternyata dirimu masih berguna dan dibutuhkan.  Kamu bilang akan kamu pertimbangkan untuk menolong. Dalam hatimu, kamu selalu berkata iya. Dia terlihat begitu bahagia mendengar ‘iya’mu. Dan saat semua usai,  ia pergi setelah teks ‘terima kasih’ dibumbui emotikon senyum lebarnya.

Jangan lupa dengan temanmu yang bukan 'teman'. Dia membutuhkanmu dengan senyuman yang selalu terpancar di wajahnya. Tipikal teman yang selalu bisa datang menolong semua orang. Dan dia tak melupakanmu , dia datang kala itu saat kamu membutuhkan seorang teman. Dia yang lari mendekatimu saat kamu berkata 'tolong'. Dia dan beberapa teman lain yang masih mendengarkan leluconmu, kamu begitu menghargai mereka. Seorang teman yang  entah sampai kapan bakal kamu miliki.

Kamu tertinggal. Ketakutanmu terjadi dengan sadarmu.  Bahwa suatu hari mereka akan menyelesaikan tugasnya dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing, lalu kamu sendiri masih enggan melangkah. Kekuranganmu adalah selalu jatuh dalam kekhawatiranmu sendiri. Mereka mengingatkanmu berkali-kali, tapi dirimu selalu menolak tangan mereka. Kamu terlalu egois. Mereka mengkhawatirkanmu tapi kamu malah lari dari mereka. Sebenarnya kamu tidak benar-benar lari, hanya saja temanmu lelah mengingatkanmu sampai mereka tak lagi peduli.

Ini keadaanmu yang paling buruk. Kamu pikir dengan bersikap biasa mereka tetap akan menemanimu. Ya. Beberapa dari mereka masih setia padamu, menganggapmu berarti dengan terus menjaga komunikasi denganmu. Sebagian yang lainnya memilih untuk diam, mungkin mereka takut menyinggungmu. Enggan menghubungimu karena kamu memiliki masalah. Bukankah seharusnya mereka menghiburmu?

Tapi ingat mereka yang lain. Mereka masih ada saat ini , menemanimu saat kamu butuh. Entah karena memang ingin atau karena butuh. Kamu terlalu mensyukurinya, ‘yang penting sekarang masih ada yang mengingatku’. Kamu orangnya pengharap. Selalu mengharapkan sesuatu di akhir walau sekarang ini tak bisa dibilang awal atau tengahnya.

Untuk mereka yang selalu ada untukmu, aku ingin mendoakan yang terbaik untuk mereka. Kelak, kalau mereka sudah tak lagi bisa menemuimu, semoga mereka masih mengingatmu sebagai seorang teman yang baik. Seperti yang sudah trejadi sebelumnya, kamu selalu jadi yang terakhir sampai akhirnya orang lain tak peduli dengan prosesmu itu. Semoga proses yang selanjutnya mereka masih ingat, luar biasa bahagianya nanti dirimu kalau mereka masih bersedia ada di momen itu.

Jangan lupa bahagia :)

Thursday, 30 June 2016

Orange [Takano Ichigo] , Tearjerking Manga

Kalau memungkinkan untuk mengirim pesan pada dirimu di masa lalu, apa kamu akan mengirimkannya?
Memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi agar tak ada penyesalan yang tersisa pada dirimu di masa kini.
Melakukan kembali hal-hal yang kamu rindukan di masa kini.
Seandainya hal itu benar-benar bisa kulakukan, apa aku akan melakukannya?

Dear 30 years old me, is that what you really want??

Beberapa hari yang lalu , Takano Ichigo memperkenalkanku pada sesuatu yang sudah sering kulihat, sesuatu tentang time machine, Orange judulnya. Manga yang kubaca pagi itu masih memberiku mimpi setiap malam. Mimpi yang akan tetap jadi mimpi atau malah berubah menjadi sebuah impian. Impian untuk bisa mengulang masa lalu untuk tak mengatakan sesuatu, untuk tak melakukan sesuatu, melakukan hal yang tak pernah kulakukan, membuka diri sedari dulu, untuk tak bertemu dengan seseorang, atau memutuskan untuk menemui seseorang. Jika memang hal menakjubkan itu bisa terjadi, apa aku masih menjadi aku yang sekarang? Apa orang yang tadinya tak ada disini bisa berubah menjadi ada disini? Apa orang yang dulu selalu ada disisi akan pergi dari sisiku? Bagaimana dengan teman dan keluargaku, apa masih bisa seperti sekarang? Memikirkannya saja membuatku tak tahu harus berbuat apa. Aku paham bahwa ini hanya angan. Sekalipun benar terjadi pikiranku tak mungkin serumit sekarang, atau malah lebih kacau. Entahlah. Tapi memikirkannya juga membuatku ingin benar-benar kembali ke masa lalu tapi juga masih erat memegang masa kini yang telah kulalui, enggan untuk melepasnya. Jika parallel world yang Tuan Takano bicarakab benar adanya, ke parallel world mana aku akan pergi? Bagaimana dengan diriku yang telah kutinggalkan? Tetap seperti itukah atau ia bisa merasakan diriku di dunia baruku?

Untuk sekelompok orang yang memiliki penyesalan yang sama, mereka beruntung. Naho, Suwa, Hagita, Azu, Taka-chan, mereka beruntung bisa memperbaikinya, membawa Kakeru hidup kembali meski tak bisa merasakannya di dunia yang mereka tinggali. Hanya saja, mungkin melegakan bisa memperbaikinya, membawa senyum Kakeru di sisi mereka. Tuan Takano memang bisa membawa orang lain masuk dalam kehidupan mereka. Saat membaca Orange, aku rasa aku adalah salah satu dari mereka, terutama Naho. Naho adalah gambaran diriku di masa lalu. Aku yang selalu menerima apa yang orang lain katakan, aku yang tak pernah bisa menyampaikan angan-anganku, aku yang tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang.

Naho.  Mengetahui seseorang menyukaimu di saat ia telah tiada bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih kalau dirimu juga memiliki rasa yang sama. Memiliki penyesalan karena tak pernah terbuka sedari dulu dan baru menyadarinya sepuluh tahun dari sekarang.  Melihat mereka tertawa begitu bahagia saat masih bersama membuatku iri akan kebersamaan itu. Tapi melihat mereka sepuluh tahun kemudian membuatku kesal.
Kakeru. Kenapa harus seperti itu, kenapa Kakeru harus pergi, membuatku membenci kisah dengan ending yang menyedihkan. Memutuskan untuk mengakhiri hidup seperti Kakeru, aku tak akan bilang bahwa itu tindakan seorang pengecut. Kakeru yang melakukannya, bukan aku, aku mana tahu rasanya punya penyesalan begitu besar. Mungkin yang ia lakukan karena begitu menyesal dan tak bisa mengatakan rasa sayang pada ibunya.
Tuan Takano mengajarkan beberapa hal dengan manganya yang tearjerking ini. Bahwa penyesalan akan terus menghantu hidupmu di masa yang akan datang. Klisenya orang akan berkata untuk berusaha hidup agar tak menyesal. Tapi hal itu tak mungkin, penyesalan bukan sesuatu yang kita rencanakan. Itu terjadi begitu saja karena pilihan yang kita ambil. So.. mungkin kalau penyesalan itu akan datang menghampiri, yang bisa kulakukan hanya menebusnya di masa depan, meski bukan pada orang yang sama, mungkin aku bisa menebusnya pada orang lain.

Dear 30 years old me, apa tidak apa aku melakukan apa yang aku lakukan saat ini? Menyesalkah kamu padaku? Apa yang seharusnya tak aku lakukan agar kamu tak mengirimiku pesan nanti? Aku harap pesanmu tak sampai padaku, karena aku ingin melihatmu dengan diriku yang sekarang ini. Take care of my 30 years old for me.


Picture from Devianart.com by seunghana

Wednesday, 1 June 2016

22

June 1st. Two months to my 23rd birthday. I dont know if it's mean something or not. My 22 is Taylor Swift's song which is consist of confused, lonely and miserable thing , without happiness and magical story. There's a lot of crying in my bed time. Even in daytime I did too. In several months after my birthday is the worst. Being alone doesnt help me like it used to , moreover it makes me think unbelieveble thing that turn me into bad person. Snap at something  people said or have that envious feeling at anything my sister or my friend have.
Sally, my guitar , become my best companion. She wipe my tears everytime I end up crying while singing the song. It get better this past few months. Have a great time with friends help me a lot. It's decreased my depression as long as the sensitif topic didn't coming out. I'm being so skillfull at lying and it's so hard to tell the truth. The good thing is I tried to opened up about my problems for the first time in my lifetime.
I said 'It's so hard to find happiness nowadays'. And they asked me 'what happened with you to say something like that?' I just laugh and said 'nothing'. I barely know what's going on , how can I tell people what happened.
I'm not good enough to say I'm fine now. Yes I still cry from time to time but not as much as that time. I want to be me who cries at tearjerking movie , not from something barely happened in my life.
It's merely a confession of my unclear  issue and a way to thanks a friend who understand me and still believe in me,  even when I'm not being trustworthy to myself.
Please be with me even when I'm not in my good state. And I'm sorry for being a liar.

P.S. It's not written for specific someone. it's for anyone who read this stupid yet meaningful (for me) thing.

Friday, 4 March 2016

Sunday, 3 January 2016

Apa Kita Akan Bertemu?

Hari ini, tanggal tiga januari terlihat di layar handphoneku mengingatkanku kalau ini sudah bulan januari lagi, bulan desember sudah berakhir dan kini lembaran ceritaku dimulai kembali di awal tahun ini. Ini bukan awal dari kisah baru hanya karena tahun berganti. 2016 berarti new chapter, not new story. Dia dan  mereka yang ada di tahun lalu atau tahun sebelumnya mungkin masih ada di beberapa halaman ke depan. Atau mungkin, mereka yang kutulis adalah orang-orang baru yang belum kutemui di awal tahun ini.  Mungkin entah di berapa puluh halaman dari kisah tahun ini aku bisa benar-benar menerima kalau dirimu sudah tak ada di sini, kamu tahulah apa maksudku dengan 'di sini'. Mungkin juga , seseorang yang memang seharusnya kuperjuangkan akan menjadi pengisi kisahku kelak di tahun ini. Aku tidak tahu, kamu pun juga tidak tahu, hanya Dia yang akan mempertemukan kita suatu hari nanti. Banyak skenario yang kupikirkan tentang pertemuan kita di masa depan. Aku yang tak punya pengalaman di bidang percintaan hanya bisa berkhayal tentang itu semua dari sekian banyaknya kisah orang lain. Yang hanya bisa  kukagumi, kurenungkan , kutangisi . Menempatkan diri di sisi mereka untuk tahu bagaimana rasanya dicintai? Bagaimana rasanya mengasihi? Bagaimana rasanya punyai seseorang yang bersedia menemanimu , menjadi pendengar yang setia tanpa sedikitpun menilaimu buruk? Bagaimana rasanya dirindukan, diimpikan? Bagaimana rasanya tak sendirian? Hah.. aku tertawa disini. Aku tahu jawaban semua pertanyaan itu dari membaca. Ya. Membaca. Aku banyak membaca untuk menerka beberapa macam rasa itu. Aku cuma bisa jadi gadis penasaran yang mendengarnya dari sana sini, bukan karena mengalaminya. Mungkin... ini caraNYA memintaku untuk jadi a perfect wallflower. Ya, mungkin begitu. Jadi jangan terlalu kaget kalau aku tak punya kisah yang layak diceritakan. Semuanya tergantung padamu. Kapan kamu menemuiku? Atau kapan Tuhan akan mempertemukan kita? Kalau dirimu datang kelak , banyak hal yang ingin kutuliskan hingga ada sebuah kisah yang bisa kutulis dengan senyuman disini. Bukan lagi tulisan yang tergorea karena iringan lagu sendu, tapi tulisan tentang kita dengan lagu bahagia yang menjadi kenangan kita nanti.  See you soon. Welcome my new chapter !!