Saturday, 15 October 2016

I will

I will laugh often , is something I can promise. Not knowing wether I can fulfil it or not.

Tuesday, 19 July 2016

Teman dan 'Teman'

Makhluk hidup di dunia ini begitu beragam. Bahkan manusia pun beragam warnanya, rambutnya, besarnya, sifatnya. Ada mereka yang dekat atau sekedar dekat dengan kita, sedari dulu mereka memanggilnya Teman. Yang kita sebut teman ini juga macam-macam tingkahnya, rupanya, kenangannya. Ada mereka, yang kita sebut teman dan ada yang kita sebut ‘teman’.

Waktu itu dia ada, memanggilmu bahkan di waktu yang tidak tepat dengan singkatnya. Kemudian perlahan mendekatimu, bersikap baik karena menginginkan sesuatu, entah pertolongan atau sebuah pengakuan. Kamu menyambutnya dengan senyuman seakan dirimu dibuat bahagia karena sapaannya. Karena kamu pikir bahwa ternyata dirimu masih berguna dan dibutuhkan.  Kamu bilang akan kamu pertimbangkan untuk menolong. Dalam hatimu, kamu selalu berkata iya. Dia terlihat begitu bahagia mendengar ‘iya’mu. Dan saat semua usai,  ia pergi setelah teks ‘terima kasih’ dibumbui emotikon senyum lebarnya.

Jangan lupa dengan temanmu yang bukan 'teman'. Dia membutuhkanmu dengan senyuman yang selalu terpancar di wajahnya. Tipikal teman yang selalu bisa datang menolong semua orang. Dan dia tak melupakanmu , dia datang kala itu saat kamu membutuhkan seorang teman. Dia yang lari mendekatimu saat kamu berkata 'tolong'. Dia dan beberapa teman lain yang masih mendengarkan leluconmu, kamu begitu menghargai mereka. Seorang teman yang  entah sampai kapan bakal kamu miliki.

Kamu tertinggal. Ketakutanmu terjadi dengan sadarmu.  Bahwa suatu hari mereka akan menyelesaikan tugasnya dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing, lalu kamu sendiri masih enggan melangkah. Kekuranganmu adalah selalu jatuh dalam kekhawatiranmu sendiri. Mereka mengingatkanmu berkali-kali, tapi dirimu selalu menolak tangan mereka. Kamu terlalu egois. Mereka mengkhawatirkanmu tapi kamu malah lari dari mereka. Sebenarnya kamu tidak benar-benar lari, hanya saja temanmu lelah mengingatkanmu sampai mereka tak lagi peduli.

Ini keadaanmu yang paling buruk. Kamu pikir dengan bersikap biasa mereka tetap akan menemanimu. Ya. Beberapa dari mereka masih setia padamu, menganggapmu berarti dengan terus menjaga komunikasi denganmu. Sebagian yang lainnya memilih untuk diam, mungkin mereka takut menyinggungmu. Enggan menghubungimu karena kamu memiliki masalah. Bukankah seharusnya mereka menghiburmu?

Tapi ingat mereka yang lain. Mereka masih ada saat ini , menemanimu saat kamu butuh. Entah karena memang ingin atau karena butuh. Kamu terlalu mensyukurinya, ‘yang penting sekarang masih ada yang mengingatku’. Kamu orangnya pengharap. Selalu mengharapkan sesuatu di akhir walau sekarang ini tak bisa dibilang awal atau tengahnya.

Untuk mereka yang selalu ada untukmu, aku ingin mendoakan yang terbaik untuk mereka. Kelak, kalau mereka sudah tak lagi bisa menemuimu, semoga mereka masih mengingatmu sebagai seorang teman yang baik. Seperti yang sudah trejadi sebelumnya, kamu selalu jadi yang terakhir sampai akhirnya orang lain tak peduli dengan prosesmu itu. Semoga proses yang selanjutnya mereka masih ingat, luar biasa bahagianya nanti dirimu kalau mereka masih bersedia ada di momen itu.

Jangan lupa bahagia :)

Thursday, 30 June 2016

Orange [Takano Ichigo] , Tearjerking Manga

Kalau memungkinkan untuk mengirim pesan pada dirimu di masa lalu, apa kamu akan mengirimkannya?
Memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi agar tak ada penyesalan yang tersisa pada dirimu di masa kini.
Melakukan kembali hal-hal yang kamu rindukan di masa kini.
Seandainya hal itu benar-benar bisa kulakukan, apa aku akan melakukannya?

Dear 30 years old me, is that what you really want??

Beberapa hari yang lalu , Takano Ichigo memperkenalkanku pada sesuatu yang sudah sering kulihat, sesuatu tentang time machine, Orange judulnya. Manga yang kubaca pagi itu masih memberiku mimpi setiap malam. Mimpi yang akan tetap jadi mimpi atau malah berubah menjadi sebuah impian. Impian untuk bisa mengulang masa lalu untuk tak mengatakan sesuatu, untuk tak melakukan sesuatu, melakukan hal yang tak pernah kulakukan, membuka diri sedari dulu, untuk tak bertemu dengan seseorang, atau memutuskan untuk menemui seseorang. Jika memang hal menakjubkan itu bisa terjadi, apa aku masih menjadi aku yang sekarang? Apa orang yang tadinya tak ada disini bisa berubah menjadi ada disini? Apa orang yang dulu selalu ada disisi akan pergi dari sisiku? Bagaimana dengan teman dan keluargaku, apa masih bisa seperti sekarang? Memikirkannya saja membuatku tak tahu harus berbuat apa. Aku paham bahwa ini hanya angan. Sekalipun benar terjadi pikiranku tak mungkin serumit sekarang, atau malah lebih kacau. Entahlah. Tapi memikirkannya juga membuatku ingin benar-benar kembali ke masa lalu tapi juga masih erat memegang masa kini yang telah kulalui, enggan untuk melepasnya. Jika parallel world yang Tuan Takano bicarakab benar adanya, ke parallel world mana aku akan pergi? Bagaimana dengan diriku yang telah kutinggalkan? Tetap seperti itukah atau ia bisa merasakan diriku di dunia baruku?

Untuk sekelompok orang yang memiliki penyesalan yang sama, mereka beruntung. Naho, Suwa, Hagita, Azu, Taka-chan, mereka beruntung bisa memperbaikinya, membawa Kakeru hidup kembali meski tak bisa merasakannya di dunia yang mereka tinggali. Hanya saja, mungkin melegakan bisa memperbaikinya, membawa senyum Kakeru di sisi mereka. Tuan Takano memang bisa membawa orang lain masuk dalam kehidupan mereka. Saat membaca Orange, aku rasa aku adalah salah satu dari mereka, terutama Naho. Naho adalah gambaran diriku di masa lalu. Aku yang selalu menerima apa yang orang lain katakan, aku yang tak pernah bisa menyampaikan angan-anganku, aku yang tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang.

Naho.  Mengetahui seseorang menyukaimu di saat ia telah tiada bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih kalau dirimu juga memiliki rasa yang sama. Memiliki penyesalan karena tak pernah terbuka sedari dulu dan baru menyadarinya sepuluh tahun dari sekarang.  Melihat mereka tertawa begitu bahagia saat masih bersama membuatku iri akan kebersamaan itu. Tapi melihat mereka sepuluh tahun kemudian membuatku kesal.
Kakeru. Kenapa harus seperti itu, kenapa Kakeru harus pergi, membuatku membenci kisah dengan ending yang menyedihkan. Memutuskan untuk mengakhiri hidup seperti Kakeru, aku tak akan bilang bahwa itu tindakan seorang pengecut. Kakeru yang melakukannya, bukan aku, aku mana tahu rasanya punya penyesalan begitu besar. Mungkin yang ia lakukan karena begitu menyesal dan tak bisa mengatakan rasa sayang pada ibunya.
Tuan Takano mengajarkan beberapa hal dengan manganya yang tearjerking ini. Bahwa penyesalan akan terus menghantu hidupmu di masa yang akan datang. Klisenya orang akan berkata untuk berusaha hidup agar tak menyesal. Tapi hal itu tak mungkin, penyesalan bukan sesuatu yang kita rencanakan. Itu terjadi begitu saja karena pilihan yang kita ambil. So.. mungkin kalau penyesalan itu akan datang menghampiri, yang bisa kulakukan hanya menebusnya di masa depan, meski bukan pada orang yang sama, mungkin aku bisa menebusnya pada orang lain.

Dear 30 years old me, apa tidak apa aku melakukan apa yang aku lakukan saat ini? Menyesalkah kamu padaku? Apa yang seharusnya tak aku lakukan agar kamu tak mengirimiku pesan nanti? Aku harap pesanmu tak sampai padaku, karena aku ingin melihatmu dengan diriku yang sekarang ini. Take care of my 30 years old for me.


Picture from Devianart.com by seunghana

Wednesday, 1 June 2016

22

June 1st. Two months to my 23rd birthday. I dont know if it's mean something or not. My 22 is Taylor Swift's song which is consist of confused, lonely and miserable thing , without happiness and magical story. There's a lot of crying in my bed time. Even in daytime I did too. In several months after my birthday is the worst. Being alone doesnt help me like it used to , moreover it makes me think unbelieveble thing that turn me into bad person. Snap at something  people said or have that envious feeling at anything my sister or my friend have.
Sally, my guitar , become my best companion. She wipe my tears everytime I end up crying while singing the song. It get better this past few months. Have a great time with friends help me a lot. It's decreased my depression as long as the sensitif topic didn't coming out. I'm being so skillfull at lying and it's so hard to tell the truth. The good thing is I tried to opened up about my problems for the first time in my lifetime.
I said 'It's so hard to find happiness nowadays'. And they asked me 'what happened with you to say something like that?' I just laugh and said 'nothing'. I barely know what's going on , how can I tell people what happened.
I'm not good enough to say I'm fine now. Yes I still cry from time to time but not as much as that time. I want to be me who cries at tearjerking movie , not from something barely happened in my life.
It's merely a confession of my unclear  issue and a way to thanks a friend who understand me and still believe in me,  even when I'm not being trustworthy to myself.
Please be with me even when I'm not in my good state. And I'm sorry for being a liar.

P.S. It's not written for specific someone. it's for anyone who read this stupid yet meaningful (for me) thing.

Friday, 4 March 2016

Sunday, 3 January 2016

Apa Kita Akan Bertemu?

Hari ini, tanggal tiga januari terlihat di layar handphoneku mengingatkanku kalau ini sudah bulan januari lagi, bulan desember sudah berakhir dan kini lembaran ceritaku dimulai kembali di awal tahun ini. Ini bukan awal dari kisah baru hanya karena tahun berganti. 2016 berarti new chapter, not new story. Dia dan  mereka yang ada di tahun lalu atau tahun sebelumnya mungkin masih ada di beberapa halaman ke depan. Atau mungkin, mereka yang kutulis adalah orang-orang baru yang belum kutemui di awal tahun ini.  Mungkin entah di berapa puluh halaman dari kisah tahun ini aku bisa benar-benar menerima kalau dirimu sudah tak ada di sini, kamu tahulah apa maksudku dengan 'di sini'. Mungkin juga , seseorang yang memang seharusnya kuperjuangkan akan menjadi pengisi kisahku kelak di tahun ini. Aku tidak tahu, kamu pun juga tidak tahu, hanya Dia yang akan mempertemukan kita suatu hari nanti. Banyak skenario yang kupikirkan tentang pertemuan kita di masa depan. Aku yang tak punya pengalaman di bidang percintaan hanya bisa berkhayal tentang itu semua dari sekian banyaknya kisah orang lain. Yang hanya bisa  kukagumi, kurenungkan , kutangisi . Menempatkan diri di sisi mereka untuk tahu bagaimana rasanya dicintai? Bagaimana rasanya mengasihi? Bagaimana rasanya punyai seseorang yang bersedia menemanimu , menjadi pendengar yang setia tanpa sedikitpun menilaimu buruk? Bagaimana rasanya dirindukan, diimpikan? Bagaimana rasanya tak sendirian? Hah.. aku tertawa disini. Aku tahu jawaban semua pertanyaan itu dari membaca. Ya. Membaca. Aku banyak membaca untuk menerka beberapa macam rasa itu. Aku cuma bisa jadi gadis penasaran yang mendengarnya dari sana sini, bukan karena mengalaminya. Mungkin... ini caraNYA memintaku untuk jadi a perfect wallflower. Ya, mungkin begitu. Jadi jangan terlalu kaget kalau aku tak punya kisah yang layak diceritakan. Semuanya tergantung padamu. Kapan kamu menemuiku? Atau kapan Tuhan akan mempertemukan kita? Kalau dirimu datang kelak , banyak hal yang ingin kutuliskan hingga ada sebuah kisah yang bisa kutulis dengan senyuman disini. Bukan lagi tulisan yang tergorea karena iringan lagu sendu, tapi tulisan tentang kita dengan lagu bahagia yang menjadi kenangan kita nanti.  See you soon. Welcome my new chapter !!

Monday, 9 November 2015

Konspirasi Katanya

Akhir-akhir ini GP mania lagi setia-setianya mengikuti perkembangan race di tiap musim , tapi juga banyak GP mania dadakan nangkring di Timeline BBM maupun facebookku khusus untuk race terakhir musim ini. Bagus memang kalau orang mulai menyukai tontonan baru di luar ritme mereka biasanya. Apalagi saat Moto GP lagi asik-asiknya di akhir musim ini. 'Katanya', kata mereka yang posting disana sini lagi ada konspirasi di musim ini, secara singkatnya si Marc Marquez yang notabene berasal dari Italy lagi giat bantuin Lorenzo buat jegal Rossi. Gosip ini membuat Marquez turun pamor, dicaci sana sini. When in reality, they never know what's the real reason for his act. Karena orang percaya pada rumor. Dan saat satu orang menyatakan opininya , orang lain yang membaca akan melihatnya sebagai fakta. Dan yang mereka pikir fakta itu terus menyebar sebagai hot topic, as a way to prove you're cool enough to know these new issue and then you choose to support the good one in media's view. Sungguh luar biasa kekuatan media.
Saat saya tuliskan ini mungkin aku terlihat sebagai pendukung Marquez dan menentang pendukung Rossi. Bukan. Saya bukan pendukung keduanya. Saya cuma mengagumi skill kedua bintang itu. Nonton pun jarang, cuma dengar kabar sana sini. Jadi apa yang saya tulis disini anggap saja kesoktahuan saya.

Banyak skenario yang bisa kita bayangkan tentang alasan Marquez melakukan kecurangan yang terjadi (kalau itu memang yang terjadi). Dan tidak semua skenario sesimpel yang kita bayangkan seperti karena Marquez dan Lorenso berasal dari kota yang sama. Bisa saja ini yang terjadi : Marquez diancam oleh suatu pihak agar ia bersedi membantu Lorenso meraih gelar juara. Tapi sayangnya kita tidak tahu, mana alasan yang benar. Mungkin lebih kompleks dari sekedar membela tanah air. Kita tidak tahu benar apa yang ada di pikiran Marquez, Puaskah? Menyesalkah? 

Jadi ingat kata-kata admin @swsadness di instagram.
Sometimes people do things without even knowing or realizing. It's up to you to hear their side of the story. I hope you do. It's a shame to lose a friend (in this case, an idol) over a mistake. Nobody can be the ideal friend all the time. People make mistakes, and many without knowing. I know people say actions matter, but intentions matter even more. And intentions make a human being, while an action is merely an extentions. Most times our actions, head and heart dont match. So you see, it's tough being here on Earth, especially when you have the heart of a human and the needs of an animal. But what someone hopes to do with their heart and your heart, that is sacred. I believe more people should love other exhaustedly. It doesn't break you. It makes you hopeful.

That short speech gives you enough reason not to hate or pointed out your finger at Marquez ,as the world knows as the bad guy here. Cause we never know what's on his mind.