Friday, 20 February 2015

Letter

Aku kira aku yang paling menderita.  Sampai hari aku bertemu denganmu lagi yang terlihat tak sanggup menatapku karena mengingatkanmu akan hari itu.

Aku kira aku beruntung. Sampai kamu tunjukkan bahwa kutukan yang kumiliki tak seindah milikmu.

Aku kira hidupku sudah membaik Karena aku sudah terbiasa dengan ketidakberuntungan ini.   Sampai kamu datang dan perjelas semua itu dengan menuduhku. Membuatku kembali merasa yang paling menderita.

Aku kira aku bisa menerima ini, apa yang seharusnya tak terjadi padaku.

Kenapa kamu harus lebih dariku? 
Saat kamu tersihir agar tak pernah menangis walau sedikit saja bersedih, kenapa ia memilihku agar tak pernah tertawa bahkan seutas senyum?
Tidakkah semua ini tak adil?  Semuanya terasa adil untukmu.
Tak bisakah kedua kutukan itu ia berikan padaku saja?

Kamu membenciku, aku tahu itu. Tapi aku tak pernah membencimu sekalipun kamu memaksaku.
Dan aku harap kamu tahu itu.

Potongan surat dari cerita yang dulu sempat ada di pikiran ini tapi tak pernah bisa kutulis.

Saturday, 10 January 2015

Sempat Tak Tersampaikan

Tangan ini sudah tak kuat menahan untuk menuliskannya. Tapi tiap kali ingin mengeluhkannya, entah rasa kecewa, rasa sakit, rasa diabaikan,  hati ini ragu , 'jangan jadi pengeluh' katanya
Tangan ini juga sudah tak ingin berjuang untuk melawan akal, tiap kali akan terjatuh dalam bentuk kalimat untuk mencaci orang lain atau kembali menyalahkan diri sendiri, hati ini kembali ragu, 'kamu sudah melanggar janjimu untuk berhenti menghakimi' . Benar memang. Kali ini hatiku mengingatkan akalku.
Tapi Hati ini sudah lelah. Lelah sekali.
Malam itu pikiran aneh muncul. Dan aku takut. Takut setengah mati. Pikiran yang selalu kuhindari , bahkan berjanji untuk tak pernah memikirkannya, malah kubayangkan sebagai solusi
Aku takut ya Allah..
Jangankan melakukan apa yang kupikirkan untuk menyelesaikan masalah, memikirkannya saja aku sudah takut
Sungguh aku tak pernah tau apa yang terjadi pada diri ini. Terlihat kasat mata tak ada hal hal aneh terjadi dalam hidupku ini. Tapi kenapa ?
Tiba tiba hati ini dingin
Tiba tiba merasa sendiri
Tiba tiba benci semua orang
Tiba tiba berulang kali membenci diri sendiri
Tiba tiba merasa diabaikan
Tiba tiba kehilangan akal
Tiba tiba pikiran hina itu muncul
Sungguh aku takut.
Tak terhitung berapa kali kukatakan kata 'takut' di sini.

Kalau tangan dan hati ini sudah tak cukup kuat menahan semuanya. Lalu bagaimana dengan tubuhku yang lain ? Aku rasa sama saja. Seharusnya mereka juga lelah.
Tapi kenapa ? Kenapa susah sekali meneteskan air mata saat aku menginginkannya?  Tapi begitu mudah keluar saat kutuliskan semua ini ? Kemana daja kalian saat itu ? Saat aku benar benar ingin kalian mengusap basah pipiku.

Jari ini sudah lelah. Sudah kutuliskan sebagian kecil yang sempat tak bisa kutuliskan.

Friday, 5 December 2014

Bukankah Kebetulan Adalah Takdir Terindah?

Seperti kupu-kupu yang hinggap pada bunga berwarna kuning itu,  apa itu sebuah kebetulan, atau si kupu-kupu berpikir ratusan kali untuk memilih bunga yang akan ia jadikan teman jalani hidupnya kala itu.  Bukankah indah kalau pilihanmya merupakan takdir?
Seperti Titan yang mengelilingi Planet Saturnus,  apakah sebuah kebetulan kalau mereka bisa hidup berdampingan sepanjang masa sampai detik ini? Bukankah mereka pasangan yang ditakdirkan dengan begitu indah?
Seperti lautan yang seberapapun luasnya,  ada saat dimana tiap deburannya sampai di suatu tempat. Kebetulankah saat mereka berlabuh di pantai, menerjang tebing, atau bahkan membeku di ujung bumi yang tak sering kita saksikan?  Bukankah pertemuan mereka bisa kita sebut takdir yang indah?
Seperti alunan musik pada seruling. Apa musik yang terbentuk merupakan sebuah kebetulan? Bukankah ada banyak hal rumit yang terjadi di dalamnya yang bukan sekedar kebetulan. Takdir yang indah antara udara dan kayu berlubang itu. Indah bukan?
Seperti itu juga denganku. Tak sadar akan kebetulan apa yang akan terjadi padaku dan dirimu, aku harap itu takdir yang indah. Bukankah kebetulan adalah takdir terindah?

Monday, 10 November 2014

Hanya ingin menulis. Itu saja.

I dont know.
Haruskah aku menyesal, atau malah bersyukur.
Terima kasih karena sudah selalu mengingatkan.
Maaf karena selalu meremehkan.
Iya, ini salahku.
Benar.
Memang benar kalau aku selalu salah.
Di manapun juga begitu.
Satu-satunya waktu dimana aku benar adalah saat aku tak melakukan apa-apa.
Itulah yang terjadi.
Yang terjadi seandainya aku ada.
Yang bisa dihindari seandainya aku tak ada.
Dan seharrusnya aku tak ada.
Ya.
Lebih baik begitu.
Itulah kenapa tiap orang merasa kesepian,  tiap kali ia sadar tak diinginkan.
Tak usah mengasihani.
Saat paling menyebalkan adalah saat orang lain mengasihani dirimu bukan?

Maaf kalau terlalu berlebihan. Hanya ingin sedikit menulis. Itu saja.

Monday, 29 September 2014

Lucu (?)

1. Ya lucu ae..

2. Lebih lucu lagi kamu yang mengatakannya

Sunday, 28 September 2014

To you Dad

Beberapa hari yang lalu seorang teman menyatakan simpatinya padaku betapa malang nasib temanku yang lain karena begitu merindukan ayahnya yang belum lama ini meninggalkan dunia. Lalu temanku bertanya apa aku juga begitu dulu,  saat hal yang sama terjadi padaku. Saat itu aku sadar kalau aku tak begitu merasakan duka yang dalam dulu saat ayah pergi. Yang kuingat, aku tak langsung menangis saat pulang ke rumah. Tak tau apa yang merasuki pikiranku aku hanya melewati kamar ayahku dan berjalan ke belakang untuk ambil air wudhu karena kebetulan belum melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat ashar barulah aku menangis di kamarku. Orang normal mungkin langsung menangis setibanya di rumah yang penuh dengan orang yang berduka. Mungkin karena diriku termasuk orang yang terlalu dingin, terlebih untuk menangis di depan banyak orang. Mungkin juga karena aku sudah berduka, jauh sebelum hari itu tiba. Itu juga yang kukatakan pada temanku yang bertanya tadi, "karena aku termasuk orang yang berduka jauh sebelum hal tak terduga terjadi".
Apa yang aku pikirkan saat itu, yang aku lakukan saat itu, apa yang akan terjadi setelah itu, aku sudah lupa.
Pertanyaan sesingkat itu membuat ingatan akan masa masa itu kembali terulang di pikiran. Ya. Aku rindu ayah, sangat rindu malah. Entah saat itu, kemarin, sekarang, besok,  dan kujamin sampai kapan pun. Tak terbayangkan kalau pernikahanku suatu hari nanti tak akan pernah dihadiri olehnya, tak disaksikannya. Sangat disayangkan.
Bukan karena aku orang yang dingin lalu aku menuliskan semua ini tanpa perasaan. Tidak. Tidak sama sekali. Aku menangis menuliskan semua ini.

Dan malam ini aku rindu sejadi-jadinya, padamu, ayah. Rindu ingin bertemu.

Siapa yang membuatku seperti ini kalau bukan dirimu.
Siapa yang ajarkan aku bermain kalau bukan dirimu.
Menuntunku menjadi pribadi yang kuat seperti ini.
Masih ingat dulu saat kita bermain kartu bersama.. sampai aku mahir memainkan kartu padahal anak anak lain tak begitu bisa memainkannya

Terima kasih untuk segalanya.. Ya. Segalanya. Karena banyak yang telah ayah berikan dulu, sekarang, maupun nanti.

Jaga dia Ya Allah :)

Tuesday, 9 September 2014

Counting Stars

Counting Stars.
Sebuah judul yang rasanya kurang cocok untuk kutulis siang ini. Ya, siang!! Matahari masih terlalu tinggi untuk menghitung bintang.

Girl:   Lalu kenapa kamu buat judul tak masuk akal begitu?

Me:  karena aku sedang bermimpi dan tak ingin bangun dari tidurku.

Girl:  kalau begitu bangunlah, hari masih panjang

me:  aku tak mau. Biarkan aku tidur sampai semua masalahku selesai

girl:  selesai?  Dengan sendirinya?  Kau gila.

Me:  ya.. anggap saja aku benar gila hingga orang malas berurusan denganku hari ini

Girl:  terserah kau sajalah

*dialog aneh siang ini
*diposting saat lagu yang kuputar Wake me up by Ed Sheeran