Malam itu, tujuh tahun yang lalu, saat diri ini sibuk memikirkan diri sendiri, ada satu kalimat yang selalu kuingat. "Di dunia ini hanya ada dua manusia, manusia yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan" . Ini kata - kata yang dikatakan oleh seorang guru pada muridnya (Ibu Tohru Honda) di komik Fruit Basket. Dan seketika itu juga aku berpikir, aku ada di golongan yang mana? Pikiran aneh mulai muncul, bagaimana kalau sebenarnya aku ada di golongan yang kedua? Hanya karena ibu Tohru seorang preman lalu ia termasuk golongan kedua? Sejak saat itu aku membenci kalimat itu, bahwa ada manusia yang dibutuhkan dan yang tidak. Karena aku takut, kalau sebenarnya bagi orang lain aku tidak dibutuhkan.
Saat SMA, salah seorang guruku mengatakan hal yang sama dengan guru yang kusebut tadi. Dia bilang kalian termasuk yang mana? Sejak saat itu aku tak lagi percaya kata-katanya. Sejak saat itu pula aku mencari cari alasan agar aku tak termasuk golongan kedua. Karena sekalipun seseorang pernah berbuat salah bukan berarti ia tidak dibutuhkan. Karena kalau tidak pernah sekali saja melakukan kesalahan, aku mungkin takkan ada disini, menuliskan semua yang pernah kutulis.
Terima kasih untuk yang datang dalam hidupku, terlebih yang memilih singgah untuk menemaniku
Wednesday, 9 September 2015
Haunted
Thursday, 3 September 2015
Stay Gold, Stay Strong
How can I love someone I've never touched
You lived under the water but I love you so much
You've never been on land and you've never seen the sky
You don't know what a cloud is why did everything I loved have to die?
They all wanted to see you be as big as you could be
But I couldn't let that be
Thought keeping you small meant keeping you safe
If I could do it again I'd release you to sea
Cause I can't bear to see something so wild just die in a tank
And Pablow the Blowfish I miss you so much
And Pablow the Blowfish I miss you so bad
On Saturday night we all went out to eat
But I can never decide so someone chose sushi
I got soup and I ordered rice
But watching my friends eat my friend ruined my appetite
Oh Pablow the Blowfish if they only knew
you like I do they'd love you too
And Pablow the Blowfish I miss you so bad
I won't forget even one second we had
Cause you might be gone but you could never be dead
I heard of a seahorse named Sadie
I heard that she was quite the lady
Maybe you'll find her and you could make babies
That would be kind of crazy
If Pablow the Blowfish found love deep in the sea
Then that would mean
Pablow the Blowfish was better off than here with me
Pablow the Blowfish I miss you so bad
Sudah lama sejak terakhir kali kita berjumpa disini. Tepatnya di angka delapan kalender bulan lalu kita bertemu disini dengan enggan aku menuliskan yang ingin kutulis disini. Banyak hal yang ingin kuceritakan. Tapi tak semuanya bisa kutulis disini.
Kalian lihat lirik di atas? Ada beberapa nama di dalamnya. Ya. Namanya Pablow. Seekor blowfish milik penyanyi terkenal Miley Cyrus. I'm not her biggest fans, apalagi fans dari the 'New' Miley. Tingkahnya yang sekarang jauh dari karakter seorang Hannah Montana yang dulu kita kenal. Tapi setelah melihat dia menyanyikan lagu dengan lirik di atas aku berubah pikiran. Seorang Miley menangis hanya karena seekor ikan? It's unbelieveable. A woman as strong as strong as her, who always curse at any chance she got, who always bold at anyone. She's not even crying in front of camera when she broke her engangement. And she make me cry while seeing her singing this song. I'm not even a pet lovers.
Dan setelah melihat ini semua akhirnya bisa kutuliskan tentang semua yang ingin kusampaikan.
Bahwa yeah ang selalu kita lihat merupakan sebagian dari apa yang sebenarnya terjadi.
Bahwa karang yang keras sekalipun tak selamanya kuat saat dihantam ombak.
Bahwa seseorang cenderung mempertahankan apa yang orang lain katakan tentang seseorang tersebut. Saat beberapa orang mengatakan dirinya adalah seorang yang kurang baik, ia hanya bisa menjalani hidup untuk mewujudkan ekspetasi orang lain, meski ia tak ingin.
Bahwa tak semua orang bisa melawan dirinya sendiri.
Bahwa saat orang mengecapmu sebagai orang yang buruk, kamu merasa orang akan kecewa saat kamu bertingkah sebaliknya.
Bahwa tidak semua orang bisa bangkit dengan begitu cepat.
Bahwa tak semua orang bisa jujur, bertingkah malu saat ia malu. Bertingkah bahagia saat ia bahagia. Karena bisa jadi, mereka marah karena malu, mereka sedih karena bahagia, mereka sedih karena mereka takut.
Karena bisa jadi, saat Miley menangis, ada banyak hal rumit di kepalanya, di hatinya, bukan hanya karena kehilangan Pablow, bukan hanya kehilangan orang yang tersayang. Mungkin lebih dari itu kita tak pernah tau.
Begitu pula denganku.
I'm seeing the old miley here. And I'm never gonna see her like I used to see.
Monday, 8 June 2015
Sorry?
Saat berjanji bahwa aku ingin menjaga kenangan, tak pernah kusangka akan teringkari. Janji bahwa tak akan pernah menghapus kenangan di laman ini. Maaf harus menyembunyikan memori waktu itu, entah sampai kapan. Mungkin sampai suasana tenang, atau mungkin selamanya..
Aku benci melakukan ini..
Sunday, 8 March 2015
Not Exactly Rainbow
Saat kamu katakan kamu seperti warna ungu, aku tau maksudmu adalah misterius
Saat kamu katakan aku seperti warna biru, aku tau maksudmu bukan ketenangan yang kamu lihat, tapi kesedihan kan ?
Saat kamu katakan kamu seperti warna kuning, aku tau maksudmu, kamu yang selalu bahagia.
Saat kamu katakan aku seperti warna hijau, aku tau maksudmu bukan kedamaian saat melihatku, tapi aku yang penuh rasa iri kan?
Saat kamu katakan kamu seperti warna jingga, aku tau maksudmu adalah kamu yang penuh kehangatan
Saat kamu katakan aku seperti warna merah, aku tau maksudmu bukan cinta, tapi benci kan ?
Saat semua warna itu menjadi satu, apa kita juga akan seindah pelangi?
Inspired by a fiction “Not exactly Romance” at Wattpad
Thursday, 5 March 2015
Friday, 20 February 2015
Letter
Aku kira aku yang paling menderita. Sampai hari aku bertemu denganmu lagi yang terlihat tak sanggup menatapku karena mengingatkanmu akan hari itu.
Aku kira aku beruntung. Sampai kamu tunjukkan bahwa kutukan yang kumiliki tak seindah milikmu.
Aku kira hidupku sudah membaik Karena aku sudah terbiasa dengan ketidakberuntungan ini. Sampai kamu datang dan perjelas semua itu dengan menuduhku. Membuatku kembali merasa yang paling menderita.
Aku kira aku bisa menerima ini, apa yang seharusnya tak terjadi padaku.
Kenapa kamu harus lebih dariku?
Saat kamu tersihir agar tak pernah menangis walau sedikit saja bersedih, kenapa ia memilihku agar tak pernah tertawa bahkan seutas senyum?
Tidakkah semua ini tak adil? Semuanya terasa adil untukmu.
Tak bisakah kedua kutukan itu ia berikan padaku saja?
Kamu membenciku, aku tahu itu. Tapi aku tak pernah membencimu sekalipun kamu memaksaku.
Dan aku harap kamu tahu itu.
Potongan surat dari cerita yang dulu sempat ada di pikiran ini tapi tak pernah bisa kutulis.
Saturday, 10 January 2015
Sempat Tak Tersampaikan
Tangan ini sudah tak kuat menahan untuk menuliskannya. Tapi tiap kali ingin mengeluhkannya, entah rasa kecewa, rasa sakit, rasa diabaikan, hati ini ragu , 'jangan jadi pengeluh' katanya
Tangan ini juga sudah tak ingin berjuang untuk melawan akal, tiap kali akan terjatuh dalam bentuk kalimat untuk mencaci orang lain atau kembali menyalahkan diri sendiri, hati ini kembali ragu, 'kamu sudah melanggar janjimu untuk berhenti menghakimi' . Benar memang. Kali ini hatiku mengingatkan akalku.
Tapi Hati ini sudah lelah. Lelah sekali.
Malam itu pikiran aneh muncul. Dan aku takut. Takut setengah mati. Pikiran yang selalu kuhindari , bahkan berjanji untuk tak pernah memikirkannya, malah kubayangkan sebagai solusi
Aku takut ya Allah..
Jangankan melakukan apa yang kupikirkan untuk menyelesaikan masalah, memikirkannya saja aku sudah takut
Sungguh aku tak pernah tau apa yang terjadi pada diri ini. Terlihat kasat mata tak ada hal hal aneh terjadi dalam hidupku ini. Tapi kenapa ?
Tiba tiba hati ini dingin
Tiba tiba merasa sendiri
Tiba tiba benci semua orang
Tiba tiba berulang kali membenci diri sendiri
Tiba tiba merasa diabaikan
Tiba tiba kehilangan akal
Tiba tiba pikiran hina itu muncul
Sungguh aku takut.
Tak terhitung berapa kali kukatakan kata 'takut' di sini.
Kalau tangan dan hati ini sudah tak cukup kuat menahan semuanya. Lalu bagaimana dengan tubuhku yang lain ? Aku rasa sama saja. Seharusnya mereka juga lelah.
Tapi kenapa ? Kenapa susah sekali meneteskan air mata saat aku menginginkannya? Tapi begitu mudah keluar saat kutuliskan semua ini ? Kemana daja kalian saat itu ? Saat aku benar benar ingin kalian mengusap basah pipiku.
Jari ini sudah lelah. Sudah kutuliskan sebagian kecil yang sempat tak bisa kutuliskan.